Jumat, 04 Oktober 2013

HW100 - Penurunan berat badan

Manusia emang nggak pernah puas.  Terakhir kali saya modif HW100 adalah dengan penggantian tabung FWB (seken tahun 2000) dan peredam custom.  Tiba pada suatu saat tabungnya jatuh sewaktu dilepas dan kaca pada manometernya pecah.  Terpaksa saya nabung buat beli tabung yang baru.  Setelah 2 bulan, datanglah si tabung baru, berwarna item doff dengan tulisan I/13.  Artinya dibuat bulan Januari tahun 2013. 
Tabung baru akhirnya datang juga.

Setelah dipake beberapa minggu, iseng tanya-tanya popor custom.  Biar murah, bikin di teman sendiri deh.  Model juga milih yang paling sederhana.  Setelah 3 bulan bedil saya ditinggal di rumah sang pembuat popor, selesailah popor idaman itu.  Nggak perlu saya post fotonya, yang jelas itu popor baru nggak bisa dipasang.  Yang lubang baut nggak pas, bautnya kurang panjang, kayunya ada sambungan.  Ente bayangin Bro, nunggu 3 bulan, sampe bedil ditinggal di sana.  Hasilnya nggak bisa dipake.  Coba waktu itu ada telpon nawarin KTA, pasti saya omelin dari Sabang sampe Merauke.

Ternyata nasihat teman banyak benarnya, pesanlah pada ahlinya.  Terpaksa saya menunda beli mimis, buat pesan popor ini.  Rencananya saya pesan di pengrajin popor di Solo yang sudah terbukti kualitasnya.  Program saya buat Bella kali ini adalah penurunan berat badan.  Popor asli si Bella beratnya 2 kg. Ada 3 pilihan kayu : manga, mahoni, waru.  Pokoke saya pilih yang paling enteng, Waru.  Cukup 2 minggu, datanglah si popor baru.  Setelah ditimbang, beratnya 1 kg persis.  Garapannya halus, ukuran gripnya pas dengan genggaman saya, jarak dengan trigger juga enak.  Hanya warna gelapnya yang saya kurang suka.
Udah berkurang 1 kg lagi beratnya.  Cuma popornya saya kurang suka

Setelah dipake lagi beberapa waktu, muncul lagi ide iseng : kayanya bisa dibikin lebih pendek dengan shrouded barrel nih.  Buka AutoCAD dulu... maklum dulunya saya cukup jago desain pake AutoCAD.  Cukup bikin line sana sini, offset sana-sini, trim ini itu, pasti jadi.  Yang Maha Kuasa berkehendak lain, Dia tidak mau hambanya sok jago.  Baru aja dibuka, ternyata AutoCAD udah kadaluwarsa. Terpaksa ambil kertas, bolpoin dan penggaris, kita pake cara lama.

Bikin sketsa ala kadarnya dengan kertas seadanya.  Yang penting bisa dipahami

 Sketsanya dipotret dan dikirim ke pakar senapan di Solo juga.  Dari hasil diskusi dengan beliau, disarankan drat asli jangan dibubut, tapi posisi bushing itu dibuat drat, sedangkan bushing nantinya di bagian belakang.  Saya OK saja, tinggal tega nggak ini laras ori dibubut kaya gitu.  Dengan mengucap Bismillahirohmanirrohim... laras saya kirim ke Solo dengan dan dengan sekalian pesan peredamnya
Setelah 2 minggu, laras dikirim balik seperti ini
Laras setelah datang dari Solo
 
Ternyata laras dibubut jadi OD 14mm, nggak 12 mm seperti yang saya minta. 
 
Setelah dipasang, baru ketahuan efeknya pada peredaman yang kurang bagus karena sedikitnya ruang ekspansi bagi udara.  Karena terlanjut nekat, sekalian saya cari tukang bubut aja buat ngurangi lagi jadi  12 mm.  12 mm ini mengacu pada HW100 yang FSB, di mana laras aslinya punya OD 12 mm.
Coret-coret lagi larasnya
Ini nih yang mau dibubut
 
Singkat kata, laras sudah dibubut, tinggal peredam dicat item doff menyesuaikan dengan tabung udaranya.  Kebetulan peredam ini aslinya tanpa finish, jadi warnanya kaya aluminium yang dipoles sampe mengkilat.  Terlalu blink-blink buat saya.
Tempilan final si Bella
 
Buat saya saat ini cukup lah, program penurunan berat badan si Bella ini cukup menguras dompet, tenaga dan waktu.  Lebih dari 6 bulan waktu yang dihabiskan untuk keseluruhan modifikasi ini.  Biayanya...  lumayan bikin saya terpaksa bertahan dengan HP butut.
Saat ini berat total si Bella adalah 3.3 kg include scope, panjang total termasuk peredam 101 cm.  Lebih pendek 10 cm dibanding sebelumnya.  Cukup ideal deh beratnya, program pelangsingan ini berakhir di sini.  Bella, tunggu adikmu yang sebentar lagi lahir, bantu cari nama yang bagus ya...
 





Senin, 17 Juni 2013

Anda membutuhkan hal-hal berikut?

Di blog ini saya juga coba membantu jika ada yang membutuhkan barang atau jasa sehubungan dengan senapan angin.  Untuk itu saya hanya menyediakan ruang promosi saja buat sellernya.  Seller yang masuk di sini hanya yang benar-benar saya kenal secara pribadi dan saya tahu sendiri barang yang dijualnya.  Mengenai barang atau jasa yang ditawarkan akan diupdate secara rutin.
1. Jasa pengisian senapan PCP/gas di Malang bisa kontak ke Aripin di 085755227177
2. Pemesanan lampu LED untuk chrony bisa kontak ke Aripin di 085755227177

Kamis, 16 Mei 2013

Membuat Spring Compressor jadi cantik

Spring Compressor bisa jadi alat wajib untuk bongkar pasang air gun jenis spring.  Spring Compressor yang saya punya saat ini adalah generasi ketiga yang saya buat.  Saya membuat Spring compressor generasi pertama sangat sederhana dengan pendorong  dari dongkrak mobil, sedangkan bedilnya diikat pake tali nilon.  Generasi kedua, pendorong dari C-clamp yang dipotong dan dibaut ke kayu landasannya.
Ini sedikit gambaran Spring Compressor generasi kedua, semua buatan sendiri tanpa ke tukang las.  Karena mekanisme penjepitnya dari samping, akan susah kalau digunakan pada senapan dengan body yang diameternya berbeda.  Hal ini karena body senapan jadi tidak center dengan pendorong. 
Penahan menggunakan teflon, dan dijepit dari samping

Generasi ketiga ini sudah agak niat bikinnya pake bantuan tukang las segala.  Kayu yang digunakan adalah kayu kamper, jadi jauh lebih kuat dibandingkan dengan generasi kedua yang pake kayu halus kiloan.
Generasi ketiga ini mekanisme penjepitnya dari atas alias vertikal.  Ini penampakan spring compressor generasi ketiga

Mekanisme penjepit dari atas, pendorong dilas ke plat dan dibaut ke papan dasarnya.
Kayu penahan sebelah kiri itu sengaja dibuat tidak permanen, jadi bisa diganti-ganti menyesuaikan ukuran laras dan bedil yang dipasang.
Sayangnya karena jarang dipake, dan ditaruh di luar, lama-lama timbul karat dan kayunya jamuran.  Munculah istilah spring compressor yang buruk rupa. 
Ada ide buat dipercantik, karena spring kompressor ini cukup berjasa dalam oprek-mengoprek springer.  Oke lah, saya bongkar dulu dan ini bagian-bagiannya

Papan kayu sebagai dasaran, tebal 1 cm panjang 50 cm, lebar 15 cm

Pendorongnya, dibuat dari Clamp C ukuran 4 inch, dilas ke plat dan dilubangi buat bautnya

Penahan bagian bawah dari teflon yang dilubangi bawahnya dan di tap M6

Siku penahan, dari besi siku 5 x 5

Mur, baut, ring dan teman-teman

Satu lagi yang nggak kalah penting adalah penjepit atas.  Semua material besi rencananya saya warnai, entah pake cat semprot atau bluing pake G96.
Penjepit atas, bluing paste dan cat semprot
Ide awal, akan saya bluing aja biar keren dan gak gampang ngelupas.  Pertama digerinda dulu sampe halus, kemudian diolesi pake bluing creme.  Singkat kata, semua material sudah di-olesi bluing creme.
Sementara papan kayunya diamplas halus kemudian di-finishing pake woodstain.

Proses finishing dengan woodstain
Sayangnya ternyata proses bluing tidak menghasilkan finishing yang sebagus hot bluing.  Terpaksa cat semprot turun tangan.  Supaya gak gampang ngelupas, semprot lagi pake clear.

Semua part siap dipasang.  Semua sudah mulus, kecuali teflonnya emang susah dibersihin
Baru deh pasang lagi bautnya seperti semula.
Lumayan cantik lah menurut saya, teflonnya aja yang perlu dibersihin

Kalo udah cantik gini, jadi sayang kalo ditaruh sembarangan.

Senin, 06 Mei 2013

Lampu untuk Shooting Chrony

Beberapa waktu lalu saya kesulitan untuk menggunakan Chrono di malam hari.  Ternyata perangkat ini punya kelemahan nggak bisa dipake saat malam hari.  Lampu penerangan jenis neon juga nggak bisa dipake karena ada kedipannya.  Alternatifnya adalah lampu pijar atau LED.
Kebetulan di rumah ada LED batangan sisa bikin lampu darurat, jadi muncul ide untuk membuat lampu untuk Chrono dengan LED sisa ini.

Pertama yang diperlukan tentunya LED batangan.  Masing-masing 12 titik.
LED 12 Volt yang saya gunakan, sekaligus kabelnya dipasang paralel

Supaya ringan, sumber tenaga saya pake 8 batere AA yang disusun seri.

8 Batere yang dirangkai seri dan digabung jadi satu.

Untuk mempermudah pemasangan di chrono, tempelkan velcro dibelakang LED maupun di bawah tudung chrono.
Pakai velcro untuk mempermudah pemasangan dan bisa dilepas kalau nggak perlu

Kalo sudah, tinggal dipasang.  Untuk pengetesan, saya coba di dalam rumah, muncul kode Err 2.  Sesuai manual book, Err 2 artinya poor light alias kurang cahaya.  Kalo di foto emang keliatan terang, itu karena flash-nya nyala.
Err 2 shows on screen; the second sensor did not detect the passage of the bullet. Same as above: poor light or poor alignment. 
Sekarang coba lampunya dinyalakan dan restart chrono.
Muncul simbol AL, artinya unit siap digunakan.

Selesai deh, walau si kecil selalu pengen ikut-ikutan nyoba.

Senin, 22 April 2013

Bongkar pasang Diana Panther 21

Sudah beberapa bulan saya punya Diana Panther 21 ini.  Tapi baru beberapa hari yang lalu sempat ngopreknya.

Secara keseluruhan bedil ini mirip dengan Diana 240,pendek dan ringan, cocok buat remaja.


Si Panther ini dari namanya keliatan garang, tapi sejatinya sangat lemah lembut. Secara keseluruhan nggak begitu panjang dan bobotnya enteng banget.  Mengenai spesifikasi nggak perlu saya sebutkan, kita bisa search dengan mudah.


Memang secara marking, bedil ini ada tulisan Made in Germany, tapi kalau dilihat di sana sini banyak beberapa ketidaktelitian manufacturing.  Terutama di boxnya, yang seperti menimbulkan dugaan bahwa bedil ini tidak dibuat di Jerman, paling tidak boxnya.

Marking Made in Germany
Popor sintetiknya berwarna hitam dan cukup nyaman digenggam.  Namun di beberapa titik ada bagian finishing yang kurang rapi.  Biasanya produk Jerman sangat teliti dengan kualitas dan finishing.

Yang lebih parah adalah boxnya.  Kalau kita sedikit teliti, beberapa tulisan bahasa inggrisnya ada kesalahan yang cukup fatal dalam penulisan.  Nggak Jerman banget lah.

Pada text box sebelah kiri tertulis ... is recommened... mungkin maksudnya  ...is recommended...
Pada text box yang kanan tertulis Byers and users.... mungkin maksudnya Buyers and users 
OK, itu mengenai penampilan.  Untuk velocity, saya baru nyoba dengan 2 macam pellet yaitu Superdome dan Geco.  Ini juga ngetesnya bulan lalu waktu lagi setting HW100.  Dan masih belum diinput di Excell.
Hasil chrono dengan mimis Superdome dan Geco.

OK itu hasil tes kondisi ori.  Ayo kita mulai bongkar.
Lepas baut pengikat popornya
Penutup belakang dan safety terbuat dari plastik bisa langsung dicabut.

Ada 2 pin pengikat, biasanya satu longgar, satu rapat.  Lepas dulu yang longgar.
Biasanya ada satu yang longgar, satu lagi rapet.
Dari powernya yang cuma rendah, saya yakin, tekanan pernya nggak gitu kenceng.  Karena itu untuk melepasnya, saya nggak pake spring compressor.  Ketok dulu pin kedua, punch akan masuk ke dalam menggantikan pin.  Kemudian hadapkan senapan ke atas kemudian cabut punch, bedilnya akan sedikit loncat.  Seperti dugaan saya, tekanan pernya nggak keras, jadi masih aman walau tanpa spring kompressor.

Untuk melepas pistonnya, perlu melepas pin pada batang pendorongnya.

Ketok pin bagian depan untuk melepas link pendorong

Lepas semua deh.  Pabriknya pelit banget ama grease, semua part nyaris kering.  Dilap pake tissu aja cuma kotor dikit.

Piston, link pendorong, per, spring guide, trigger unit

Diliatin dulu, bagian mana aja yang bergesekan, nah di situ nanti yang perlu smooth dan dikasih pelumas.  Biasanya piston itu bergesekan dengan chamber cuma di bagian pangkal dan ujung aja
Gosok dulu pangkal piston dengan amplas halus

Selain piston, ujung dan pangkal per juga perlu dibikin kinclong.  Biasanya saya pake gerinda, tapi waktu itu sudah malam, kuatir berisik, nggak enak sama tetangga.  Biasanya juga saya bikin mirror finish pake autosol, tapi kali ini cukup amplas, karena ada rencana pernya mau diganti yang lebih kuat.

Digosok manual pake amplas halus

Mumpung ngelepas per, sekalian aja diliat gap antara OD per dengan ID piston.  Ternyata gap-nya cukup lebar.  Jadi sekalian saya buatkan piston sleeve dengan material andalan saya yaitu kaleng Khong Guan.
Bikin mal dulu dari kertas kemudian potong kalengnya.


Kaleng Khong Guan, andalan dalam membuat piston sleeve

Nah, ukurannya sudah pas, tinggal dirapikan di dalam piston.  Tekan-tekan dengan per supaya rapat ke semua bagian dalam piston.  Olesi per dengan grease sebelum dimasukkan, jangan lupa bagian ujungnya juga diolesi grease. Gimana membedakan ujung sama pangkal dari per?  Coba masukkan spring guide ke kedua ujung per, nanti akan terasa ada yang rapet dan ada yang longgar.  Bagian per yang longgar itulah ujungnya alias yang depan.


Semua per diolesi grease kecuali pangkalnya.  Ini belakangan aja biar tangan gak belepotan.
Kemudian baru bagian pangkalnya diolesi grease termasuk spring guide.  Pasang piston ke dalam senapannya.  Pasang trigger unitnya dan pasang ke spring kompresor.  Sebenarnya tanpa spring kompresor juga bisa, tapi ternyata ada kendala dengan safetynya.  Ada plat di bagian dalam yang harus diposisikan di tengah sebelum safety dimasukkan. 
Pada tahap ini ada sedikit kesulitan menempatkan plat tersebut di tengah sementara trigger unit ditekan tanpa safety.  Hal ini karena plat tersebut longgar saat belum ditekan, tapi jadi rapat setelah ditekan.  Untuk memastikan plat tersebut selalu di tengah, safety harus dimasukkan.  Kalau safety sudah dimasukkan, trigger unit tidak bisa ditekan ke lantai. 
Terpaksa deh pasang di spring kompresor dan lakukan beberapa penyesuaian.  Sebelumnya, spring kompresor ini dipake untuk melepas D56 yang guede, jadi untuk dipake sama si Panther ini perlu beberapa penyesuaian.

Setelah terpasang di spring kompresor saya yang buruk rupa
Puter sampai pin pengunci bisa dimasukkan, kemudian pasang keduanya.  Langkah terakhir, pasang kembali pin di link pendorongnya.

Pasang link pendorong setelah diolesi grease
Alhamdulillah selesai juga.  Langsung dites, hasil tembakannya smooth, nyaris kaya bedil pompa.
Belum tes chrono karena ternyata besoknya per yang buat upgrade udah datang.

Perjalanan berlanjut...
Per bekas HW97 dari seorang teman akhirnya datang juga.  Per ini dulu yang saya ganti sewaktu HW97nya minta ganti per baru.  Per ini patah di kedua ujungnya.  Per HW97 punya diameter coil yang lebih gede dan lebih renggang.  Tentunya nanti speed meningkat.
Per HW97 bawah yang sudah patah.  Panjang sebenarnya kira-kira masih ditambah 2 cm.

Karena kedua ujungnya pernah patah, maka perlu dirapiin dikit sebelum dipake.
Dipanasi pake torch kira-kira 1 ulir

 Pertama dipanasi dulu sampe agak merah, kemudian ditekan atau dijepit dengan tang

Jepit dengan tang sampe keliatan lurus

Setelah dijepit dan agak lurus, baru setelah itu digerinda sampai rata.  Kemudian per dipotong sesuai dengan panjang per aslinya.  Kalau mau juga bisa sekalian dipoles biar kinclong.
Dipoles tapi ya nggak kinclong banget
Kali ini nggak perlu melepas piston, per langsung masuk.  OD masih muat, spring guide juga bisa masuk.
Tes dulu mana yang masuk di depan
Kali ini spring kompresor benar-benar perlu karena pernya lebih gede.  Terpaksa dilakukan modif dadakan pada spring kompressor supaya bedilnya muat.
Spring kompresor ditambahkan ganjal di beberapa tempat supaya bedil imut ini muat di situ
Selesai deh, tes dulu handlingnya nyaman apa nggak     Secara cocking effort lebih berat, hentakan juga cukup keras sampe bedilnya terasa terdorong ke depan. Mestinya kencang nih.  Tembakin dulu sekitar 50 kali sampai nggak dieseling.  Maksudnya sudah nggak berasap lagi.

Hasilnya dengan mimis Geco : 557, 568, 547, 566, 557.   Nyaris nggak ada beda dengan per asli. Cape dehh...  Penambahan speed 20 fps dengan recoil yang cukup keras sepertinya nggak sebanding...

Nggak lama kemudian saya putuskan untuk dibongkar lagi dan balik ke per aslinya.  Kemudian ambil secangkir Milo panas, tiup dulu baru disruput sambil mikir, kenapa kira-kira ya kok nggak bisa kenceng.....

Panther21 adventure continues...

Senin, 15 April 2013

Cara pemasangan scope pada senapan

Memasang scope pada senapan emang gampang-gampang susah.  Keliatan gampang tapi ternyata suatu saat muncul masalah.  Masalah yang selama ini pernah saya temui saat pemasangan scope :
- Mounting tidak align kiri-kanan --> Ini akibatnya kita terlalu memaksakan memutar turret scope  ke salah satu sisi untuk kompensasi mounting yang tidak align.
- Pemasangan scope tidak benar-benar vertikal --> pada jarak dekat, hal ini tidak terasa.  Tapi kalau dicoba pada jarak jauh, efeknya baru terasa.

Sebenarnya masih banyak masalah dalam pemasangan scope.  Namun dalam tulisan kali ini, saya hanya membahas 2 masalah di atas.  Cara yang saya pakai ini berdasarkan beberapa referensi yang saya baca dan trial yang saya lakukan sendiri.

Seringkali selesai memasang scope, saat dites tembakan menceng ke kiri atau kanan secara ekstrem.  Pada kondisi seperti ini yang saya lakukan adalah membalik mounting dan mencoba lagi.  Kalau masih menceng, terpaksa mounting diganti.  Ini terutama dialami oleh mounting 2 piece yang kualitasnya kurang bagus.
Untuk itu perlu suatu alat untuk alignment mounting 2 piece.  Alat yang saya gunakan adalah sepasang rod stainless steel yang dilacipkan ujungnya.

Sepasang silinder lancip yang digunakan untuk alignment.  Bikin dari stainless steel

Kebetulan saya mau ngoper scope Hawke Frontier yang nangkring di HW77 ke HW100 yang sekarang ditunggangi oleh Bushnell XLT.  Sementara mountingnya tidak dipindah, HW77 tetap pake Marcool, HW100 tetap pake Leupold.
Jadi di sini ada 2 macam mounting yaitu merek Marcool dan merek Leupold.  Alat pada foto di atas digunakan untuk mengecek alignment mounting 2 piece.  Pemakaiannya adalah sbb :
Secara vertikal terlihat align.  Maksudnya atas-bawah tidak ada gap
Sekarang dilihat dari atas.
Secara kiri-kanan sepertinya sedikit ada gap.  Ini buktinya kalau mounting nggak align kiri-kanan

Sementara itu saat mengecek alignment mouting Leupold, hasilnya adalah sbb :
HW100 pake mounting Leupold, kedua ujung lancip align secara vertikal


Sedangkan saat dilihat dari atas, keduanya juga bertemu dengan rapat
Dilihat dari atas juga kelihatan align secara horizontal

Dari contoh itu kelihatan mana yang kualitasnya bagus dan mana yang kurang.  Sebenarnya mounting Marcool ini saya pilih dari beberapa pasang yang saya punya, dan pasangan itu yang paling bagus.

Kesimpulan saya dari pengalaman ini adalah : Untuk memasang scope, usahakan mounting terpisah sejauh mungkin untuk mengurangi kemungkinan scope menceng.  Ini karena semakin lebar jarak antar mounting, maka kemiringan mounting akan makin kecil.

Masalah berikutnya adalah pemasangan scope pada mounting.  Sesuai saran pabrik pembuatnya, sebelum dipasang, scope harus dipastikan optical center.  Maksudnya, windage dan elevation berada pada tengah-tengah.  Caranya yang pertama dengan menghitung jumlah klik turet dari paling maju sampai paling mundur.  Kalau nggak salah waktu itu jumlahnya 320 klik.  Jadi untuk mendapat optical center adalah pada posisi setengahnya yaitu 160 klik.  Setelah itu baru dipasang ke mountingnya.

Pada pemasangan scope ini, kadang kita susah memastikan apakah scope sudah vertikal terhadap body senapan.  Hal ini penting khususnya untuk menembak jarak jauh.  Gampangannya gini.  Pada saat menembak jarak jauh, cross hair akan diangkat di atas target.  Misalnya pada scope mildot, katakan diangkat sebanyak 4 dot.  Pada scope yang gak vertikal, yang terjadi adalah seperti ini : Target kita posisikan pada dot ke empat, sementara dot ke empat itu tidak benar-benar vertikal dengan cross hair.  Sedangkan saat ditembakkan, mimis akan turun secara vertikal.  Dengan begitu, POI akan geser ke kiri atau ke kanan.

Untuk mengurangi error masalah vertikal ini ada beberapa cara.  Saya dulu pake waterpas di senapan, kemudian garis vertikal recticle diluruskan dengan benang yang digantungi bandul.  Metode ini saya gunakan cukup lama, tapi ada kendala yaitu saat kita fokus ngelihat benang, ternyata posisi bedil sedang dalam keadaan miring.

Akhirnya dari beberapa referensi, ada ide untuk memakai 2 buah waterpas.  Yang satu dipasang di senapan, sedasngkan satunya dipasang di scope.  Jika gelembung air keduanya berada pada level yang sama, kemungkinan besar senapan dan scope sudah align.  Pada metode ini, masalah yang muncul adalah, kadang sebuah senapan maupun scope tidak punya bagian yang rata untuk penempatan waterpas. 

Begini pemasangan di HW100.
Tempelkan waterpas pada bagian yang rata pada senapan maupun scope.  Nempelnya bisa pake double tape atau selotip.  Kemudian scope diputer-puter sampai level kerataannya sama dengan level senapan.
Metode inilah yang saat ini selalu saya pakai.  Bukan yang paling baik, tapi yang menurut saya mudah, murah dan hasilnya lebih presisi.  Jika teman-teman ada yang punya metode lainnya silakan di share di sini buat berbagi ilmu.

Sekarang waktunya zero dulu.....

Rabu, 13 Maret 2013

Setting Power HW100 - Part 2 Hasil Chrono

Setelah dicoba beberapa kali setting, berikut ini hasil tes speed.  Belum sempat masukin ke excell, tapi sekedar informasi saja, sekaligus biar catatannya nggak ilang.
Metode Tes seperti ini :
Mimis Baracuda Match, Tabung ori dari tekanan 200 bar diisi pake Hill pump.

Pertama dilakukan tes sesuai settingan terakhir yaitu tekanan regulator 93 bar dan settingan hammer 1.5 putaran CCW dari standar.  Ternyata dari hasil tes 1 magazine (14 shot) speed tidak sampai 850 fps (sekitar 790an).
Baut hammer diputar lagi maju 1/4 putaran, tes 10 shot, hasilnya sekitar 805 fps.
Putar lagi baut hammer 1/4 putaran, tes 10 shot dapat sekitar 810 fps.
Putar lagi maju 1/4 putaran, tes 10 shot dapat sekitar 812 fps.
Tekanan regulator 93 bar, variasi settingan hammer pada putaran baut dihitung dari standar : 540 derajat CCW, 450 derajat CCW, 360 derajat CCW dan 180 derjat CCW

Kesimpulannya, pada tekanan regulator 93 bar, speed tidak bisa naik sampai 850 fps.

Kembali regulator dibuka dan disetting pada tekanan 110 bar.  Settingan hammer tetap pada settingan terakhir 180 derajat (1/2 putaran) CCW dari settingan standar.
Hasilnya dapat 60 shot dengan speed pada kisaran 855 fps.

Tekanan regulator 110 bar, settingan hammer 1/2 putaran CCW dari standar

Sepertinya masih bisa diturunkan supaya jumlah shot bertambah.  Karena itu saya coba mundurkan hammer 1/2 putaran lagi (360 derajat dari standar).
Hasilnya bisa 75 shot efektif.  Saya coba teruskan sampai 80 shot, ternyata speed sudah turun ke 824 fps.

Shot ke 75 speed 832 fps, sementara tertinggi 855 fps.  Tembakan pertama kosong karena lupa nyalain chrono, tembakan ke 29 kosong karena magazin kehabisan mimis.
 Untuk saat ini saya puas dengan hasil segitu, jadi dalam waktu dekat tidak akan setting power lagi.
Oh ya.. karena manometer beli yang murahan, walaupun baru belum tentu 110 bar itu benar-benar 110 bar.  Mungkin berikutnya saya coba ganti pake manometer yang bagusan.

Terakhir, kalau ada yang mau bantuin input data ini ke Excell, saya akan sangat berterima kasih.  Karena dengan begitu bisa dihitung berapa average speed, extreme spread, min dan max speed.  Terima kasih sebelumnya.

Atas kebaikan seorang teman di FB yaitu Mas Fain yang sekaligus Admin KOMSAS, data tersebut diinput ke Excell dan keluarlah shot stringnya.  Terima kasih banyak mas, semoga berguna juga buat yang lain juga.

Dengan begini ketahuan hasilnya :
Average : 842.7 fps (bukan 845 seperti perkiraan saya)
Max : 858.3 fps (sepertinya mata saya yang burem, gak keliatan kalo ada yang 858.3 fps).  Walaupun nilai segini hanya muncul sekali tapi merusak ES (Extreme Spread)
Min : 839.6 fps
ES (asumsi 73 shot) : 858.3 - 839.6 = 18.7 fps (Oalah tembakan ke 25 ini bikin jelek aja)

Rencananya spring washer regulator akan saya buka, dan dilumasi dengan silicone grease, semoga saja nantinya bisa menurunkan ES.

Kecepatan mulai turun di tembakan ke 74 yaitu di speed 834.3 fps, dan selanjutnya turun drastis.  Pertimbangannya adalah shot terendah saya anggap pada tembakan ke 67 (839.6 fps), sehingga di bawah itu, artinya kecepatan sudah turun karena tekanan tabung yang berkurang.

Dari shot string ini terlihat efek regulator pada PCP, grafik terlihat datar sampai tekanan tabung sama dengan settingan regulator.  PCP lokal non regulated yang pernah saya tes menghasilkan shot string yang cenderung membentuk kurva naik kemudian turun.


Sekali lagi, Terima kasih banyak berkenan memperkaya blog ini.